Follow by Email

Minggu, 08 Januari 2012

contoh askep anak dengan limfadenintis tuberkulosis


ASUHAN KEPERAWATAN ANAK USIA 5 TAHUN

 DENGAN LIMFADENINTIS TUBERKULOSIS

 

 

 

PENGERTIAN

Tuberkolosis yang terjadi pada kelenjar superfisial yang disebabkan oleh kuman Mycobacterium tuberkulosis, terjadi dalam 6 bulan pertama setelah terjadi infeksi sebagai akibat penyebaran limfogen dan atau hematogen, biasanya multipel.

PATOGENESIS      


 




















 

 

 


Respon Imun Selular
Gagal & Inadekuat

 
                                         95%                                    5%
Sel T Spesifik
 
                                                                                   
















TB In Aktif Mungkin Masih Ada Basil TB

 
 








                                                                   5%


TB kelenjar superfisial:
§      Akibat penyebaran limfogen dan hematogen.
§      Dapat sembuh sendiri, dapat progresif.
§      Dapat merupakan bagian dari TV milier.
§      Biasanya multipel.
§      Lokasi: leher, axilla, inguinal, supra clavikuler, sub mandibula.
§      Abses.

Pembesaran kelenjar terjadi karena adanya hiperplasia limfoid dan terbentuknya tuberkel, kemudian terjadi granulasi kronis, di kelenjar terjadi nekrosis dan perkejuan.  Kelenjar dapat membesar dan melekat satu dengan yang lainnya serta melekat dengan jaringan sekitarnya, kemudian terjadi perkejuan selanjutnya terbentuk abses.  Pada penyembuhan dapat terjadi perkapuran.


PENGKAJIAN KEPERAWATAN
1.    Identitas klien: selain nama klien, juga orangtua; asal kota dan daerah, jumlah keluarga.
2.    Keluhan: penyebab klien sampai dibawa ke rumah sakit.
3.    Riwayat penyakit sekarang:
Tanda dan gejala klinis TB serta terdapat benjolan/bisul pada tempat-tempat kelenjar seperti: leher, inguinal, axilla dan sub mandibula.
4.    Riwayat penyakit dahulu:
*  Pernah sakit batuk yang lama dan benjolan bisul pada leher serta tempat  kelenjar yang lainnya dan sudah diberi pengobatan antibiotik tidak sembuh-sembuh?
*        Pernah berobat tapi tidak sembuh?
*        Pernah berobat tapi tidak teratur?
*        Riwayat kontak dengan penderita TBC.
*        Daya tahan yang menurun.
*        Riwayat imunisasi/vaksinasi.
*        Riwayat pengobatan.
5.    *   Riwayat sosial ekonomi dan lingkungan.
*        Riwayat keluarga.
*        Biasanya keluarga ada yang mempunyai penyakit yang sama.
*        Aspek psikososial.
*        Merasa dikucilkan.
*        Tidak dapat berkomunikasi dengan bebas, menarik diri.
*        Biasanya pada keluarga yang kurang mampu.
*        Masalah berhubungan dengan kondisi ekonomi, untuk sembuh perlu waktu yang lama dan biaya yang banyak.
*        Tidak bersemangat dan putus harapan.
Lingkungan:
*        Lingkungan kurang sehat (polusi, limbah), pemukiman yang padat, ventilasi rumah yang kurang, jumlah anggota keluarga yang banyak.
6.    Pola fungsi kesehatan.
1)    Pola persepsi sehat dan penatalaksanaan kesehatan.
Keadaan umum: alergi, kebiasaan, imunisasi.
2)    Pola nutrisi -  metabolik.
Anoreksia, mual, tidak enak diperut, BB turun, turgor kulit jelek, kulit kering dan kehilangan lemak sub kutan, sulit dan sakit menelan, turgor kulit jelek.
3)    Pola eliminasi
Perubahan karakteristik feses dan urine, nyeri tekan pada kuadran kanan atas dan hepatomegali, nyeri tekan pada kuadran kiri atas dan splenomegali.
4)    Pola aktifitas – latihan
Sesak nafas, fatique, tachicardia,aktifitas berat timbul sesak nafas (nafas pendek).
5)    Pola tidur dan istirahat
Iritable, sulit tidur, berkeringat pada malam hari.
6)    Pola kognitif – perseptual
Kadang terdapat nyeri tekan pada nodul limfa, nyeri tulang umum, takut, masalah finansial, umumnya dari keluarga tidak mampu.
7)    Pola persepsi diri
Anak tidak percaya diri, pasif, kadang pemarah.
8)    Pola peran – hubungan
Anak menjadi ketergantungan terhadap orang lain (ibu/ayah)/tidak mandiri.
9)    Pola seksualitas/reproduktif
Anak biasanya dekat dengan ibu daripada ayah.
10)  Pola koping – toleransi stres
Menarik diri, pasif.


PEMERIKSAAN FISIK
1.    ¨  Demam: sub fibril, fibril (40 – 41oC) hilang timbul.
¨      Batuk: terjadi karena adanya iritasi pada bronkus; batuk ini membuang/  mengeluarkan produksi radang, dimulai dari batuk kering sampai batuk purulen (menghasilkan sputum).
¨      Sesak nafas: terjadi bila sudah lanjut, dimana infiltrasi radang sampai setengah paru.
¨      Nyeri dada: ini jarang ditemukan, nyeri timbul bila infiltrasi radang sampai ke pleura.
¨      Malaise: ditemukan berupa anoreksia, berat badan menurun, sakit kepala, nyeri otot dan kering diwaktu malam hari.
¨      Pada tahap dini sulit diketahui.
¨      Ronchi basah, kasar dan nyaring.
¨      Hipersonor/timpani bila terdapat kavitas yang cukup dan pada auskultasi memberi suara limforik.
¨      Atropi dan retraksi interkostal pada keadaan lanjut dan fibrosis.
¨      Bila mengenai pleura terjadi efusi pleura (perkusi memberikan suara pekak)
2.    Pembesaran kelenjar biasanya multipel.
3.    Benjolan/pembesaran kelenjar pada leher (servikal), axilla, inguinal dan sub mandibula.
4.    Kadang terjadi abses.



PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK DAN PENGOBATAN
1.    Uji tuberkulin
Infeksi TB ® imunitas seluler ® hipersensitifitas tipe lambat ® uji tuberkulin +.
2.    Foto rontgent
Rutin: foto pada Rö paru.
Atas indikasi: tulang, sendi, abdomen.
Rontgent paru tidak selalu khas.
3.    Gambaran klinis:
¨      Tanpa gejala.
¨      Gejala umum/tidak spesifik.
-          Demam lama.
-          BB turun/tidak naik.
-          Malnutrisi.
-          Malaise.
-          Batuk lama.
-          Diare berlanjut/berulang.
¨      Gejala spesifik, sesuai organ yang terkena.
Kelenjar: kelenjar membesar skrofulodivina.
Respiratorik: batuk, sesak, mengi.
Neurologik: kejang, kaku kuduk.
Ortopedik: pincang, gibbus.
GI: diare berlanjut.
4.    Pemeriksaan mikrobiologis
-  Bakteriologis
   Memastikan TB.
         Hasil normal: tidak menyingkirkan diagnosa TB.
   Hasil +:  10 – 62% dengan cara lama.
   Cara    : cara lama radio metrik (Bactec); PCK.
5.    Pemeriksaan darah tepi
Tidak khas.
LED dapat meninggi.
6.    Pemeriksaan patologik anatomik
Kelenjar, hepar, pleura; atas indikasi.
7.    Sumber infeksi
Adanya kontak dengan penderita TB menambah kriteria diagnosa.
8.    Lain-lain
-          Uji faal paru.
-          Bronkoskopi.
-          Bronkografi.
-          Serologi.
-          dll.


PENATALAKSANAAN DAN PENGOBATAN
Penatalaksanaan
Ø  Penyuluhan
Ø  Pencegahan
Ø  Pemberian obat-obatan
1.    OAT ( oabat anti tuberkulosa )
2.    Bronchodilator
3.    Expectoran
4.    OBH
5.    Vitamin
6.    Antibiotik
Ø  Operasi untuk mengeluarkan kelenjar yang membesar.


TAHAP TUMBUH KEMBANG ANAK
À      Menurut Soetjiningsih:
Masa pra sekolah usia 1-6 tahun.
À      Menurut Donna L. Wong:
Masa anak-anak awal 1-6 tahun.
Pra sekolah: 3-6 tahun.

Tahap pertumbuhan cepat:
Pertumbuhan cepat pada masa pra-adolesen.  Terdapat pertumbuhan fisik/jasmani yang sangat pesat, dimana tubuh anak menjadi cepat besar, BB naik dengan pesat serta panjang badan (PB) juga bertambah dengan cepat, anak makan dengan banyak serta aktifitas bertambah.  Pertumbuhan tampaknya mengikuti satu irama tertentu dan berlangsung secara bergantian.

Tahap pertumbuhan otak
¨      Umur 5 tahun: sangat lambat (Morley, D: 1986).
Tahap perkembangan psikoseksual menurut Sigmund Freud:
Suatu proses pertambahan pematangan fungsi struktur tubuh serta kejiwaan yang menimbulkan dorongan untuk mencari stimulasi dan kesenangan secara umum termasuk didalamnya dorongan untuk menjadi dewasa.
¨      Fase oedipal/falik (3-5 tahun)
-          Mulai melakukan rangsangan autoerotik.
-          Bermain dengan anak berjenis kelamin berbeda.
-          Aanak pasca oedipal berkelompok dengan sejenis. 
Oedipus komplek:  anak lelaki dekat ibunya karena perasaan cinta/tertarik.
Elektra komplek  :   anak perempuan dekat ayahnya karena perasaan cinta/ tertarik.
¨      Fase laten (5 – 12 tahun)
-          Masuk ke permulaan fase pubertas.
-          Periode terintegrasi.
-          Fase tenang.
-          Dorong libido mereda sementara.
-          Erotik zona berkurang.
-          Anak tertarik dengan per group (kelompok sebaya).

Tahap perkembangan manusia ditinjau dari aspek psikososial menurut Erik Erickson:
Dibagi 8 tahap perkembangan mulai dari lahir sampai usia tua:
-          Tahap ke-3; krisis perkembangan : initiative vs guilt (inisiatif vs perasaan bersalah; nama tahap: pre school/usia pra sekolah.
-          4 – 6 tahun:
Kepercayaan yang diperoleh anak tidak diartikan bahwa ia diperbolehkan memiliki inisiatif dalam belajar mencari pengalaman-pengalaman baru secara aktif seperti bagaimana dan mengapa tentang sesuatu sehingga anak dapat memperluas aktifitasnya, jika anak dilarang dan diomeli/dicela untuk usaha itu yang mencari pengalaman baru, anak akan merasa bersalah dan menjadi anak peragu untuk melakukan sesuatu percobaan yang menantang, keterampilan motorik dan bahasanya.


DIAGNOSA PERAWATAN
Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan adanya faktor resiko :
Ø  Berkurangnya keefektifan permukaan paru, atelektasis
Ø  Kerusakan membran alveolar kapiler
Ø  Sekret yang kental
Ø  Edema bronchial
Resiko infeksi dan penyebaran infeksi berhubungan dengan :
Ø  Daya tahan tubuh menurun, fungsi silia menurun, sekret yang menetap
Ø  Kerusakan jaringan akibat infeksi yang menyebar
Ø  Malnutrisi
Ø  Terkontaminasi oleh lingkungan
Ø  Kurang pengetahuan tentang infeksi kuman
Kurangnya pengetahuan keluarga tentang kondisi, pengobatan, pencegahan, berhubungan dengan :
Ø  Tidak ada yang menerangkan
Ø  Interpretasi yang salah, tidak akurat
Ø  Informasi yang didapat tidak lengkap
Ø  Terbatasnya pengetahuan / kognitif
Perubahan kebutuhan nutrisi, kurang dari kebutuhan berhubungan dengan :
Ø  Kelelahan
Ø  Batuk yang sering, adanya produksi sputum
Ø  Dyspnoe
Ø  Anoreksia
Ø  Penurunan kemampuan finansial (keluarga).
















INTERVENSI KEPERAWATAN DAN RASIONAL

Dx. I.
Independen
Kaji dyspnoe, takipnoe, bunyi pernafasan abnormal. Meningkatnya respirasi, keterbatasan ekspansi dada dan fatique.
TB paru dapat menyebabkan meluasnya jangkauan dalam paru-paru yang berasal dari bronchopneumonia yang meluas menjadi inflamasi, nekrosis, pleural efusion dan meluasnya fibrosis dengan gejala-gejala respirasi distress.
Evaluasi perubahan tingkat kesadaran, catat tanda-tanda sianosis dan perubahan kulit, selaput mukosa dan warna kuku.
            Akumulasi sekret dapat mengganggu oksigenasi di organ vital dan jaringan
Demontrasikan/anjurkan untuk mengeluarkan nafas dengan bibir disiutkan, terutama pada klien dengan fibrosis atau kerusakan parenkhim.
Meningkatnya resistensi aliran udara untuk mencegah kolapsnya jalan nafas dan mengurangi residu dari paru-paru
Anjurkan untuk bedrest/mengurangi aktivitas
            Mengurangi konsumsi oksigen pada periode respirasi

Kolaborasi
Monitor BGA
            Menurunnya oksigen ( PaO2 ), saturasi atau meningkatnya PaCo2 menunjukkan perlunya penanganan yang lebih adekuat atau perubahan therapi.
Memberikan oksigen tambahan
            Membantu mengoreksi hipoksemia yang secara sekunder mengurangi ventilasi dan menurunnya tegangan paru.

Dx. II.
Independen
Review patologi penyakit fase aktif/tidak aktif, menyebarnya infeksi melalui bronkhus pada jaringan sekitarnya atau melalui aliran darah atau sistem limfe dan potensial infeksi melalui batuk, bersin, tertawa, ciuman atau menyanyi.
Membantu klien agar klien mau mengerti dan menerima terhadap terapi yang diberikan untuk mencegah komplikasi.
Mengidentifikasi orang-orang yang beresiko untuk terjadinya infeksi seperti anggota keluarga, teman, orang dalam satu perkumpulan.
Memberitahukan kepada mereka untuk mempersiapkan diri untuk mendapatkan terapi pencegahan.
Anjurkan klien menampung dahaknya jika batuk
            Kebiasaan ini untuk mencegah terjadinya penularan infeksi.
Gunakan masker setap melakukan tindakan
            Untuk mengurangi resiko penyebaran infeksi
Monitor temperatur
            Febris merupakan indikasi terjadinya infeksi.
Ditekankan untuk tidak menghentikan terapi yang dijalani
Periode menular dapat terjadi hanya 2 – 3 hari setelah permulaan kemoterapi tetapi dalam keadaan sudah terjadi kavitas atau penyakit sudah berlanjut sampai tiga bulan.

Kolaborasi
Pemberian terapi untuk anak
INH, Etambutol, Rifampisin
INH adalah obat pilihan bagi penyakit TB primer dikombinasikan dengan obat-obat lainnya. Pengobatan jangka pendek INH dan Rifampisin selama 9 bulan dan etambutol untuk 2 bulan pertama.
Pyrazinamid ( PZA ) / aldinamide, Paraamino Salicyl ( PAS ), Sycloserine, Streptomysin
Obat-obat sekunder diberikan jika obat-obat primer sudah resisten.
Monitor sputum BTA
Klien dengan 3 kali pemeriksaan BTA negatif, terapi diteruskan sampai batas waktu yang ditentukan.

Dx. III.
Independen
Kaji kemampuan belajar klien misalnya : tingkat kecemasan, perhatian, kelelahan, tingkat partisipasi, lingkungan yang memungkinkan klien untuk belajar, seberapa banyak yang telah diketahui, media yang tepat dan siapa yang dipercaya.
Kemampuan belajar berkaitan dengan keadaan emosi dan kesiapan fisik. Keberhasilan tergantung pada sebatasmana kemampuan klien.
Mengidentifikasi tanda-tanda yang dapat dilaporkan pada dokter misalnya : hemoptisis, nyeri dada, demam, kesulitan nafas, kehilangan pendengaran, vertigo.
Mengindikasikan perkembangan penyakit atau efek samping dari pengobatan yang membutuhkan evaluasi secepatnya.
Menekankan pentingnya asupan diet TKTP dan intake cairan yang adekuat.
Mencukupi kebutuhan metabolik, mengurangi kelelahan, intake cairan yang memadai membantu mengencerkan dahak.
Berikan informasi yang spesifik dalam bentuk tulisan untuk klien dan keluarga misalnya : jadwal minum obat.
Informasi tertulis dapat mengingatkan klien tentang informasi yang telah diberikan. Pengulangan informasi dapat membantu mengingatkan klien.
Menjelaskan dosis obat, frekwensi, tindakan yang diharapkan dan perlunya therapi dalam jangka waktu lama. Mengulangi penyuluhan mengenai potensial interaksi antara obat yang diminum dengan obat / subtansi lain.
Meningkatkan partisipasi klien dan keluarga untuk mematuhi aturan therapi dan mencegah terjadinya putus obat.
Jelaskan tentang efek samping dari pengobatan yang mungkin timbul, misalnya : mulut kering, konstipasi, gangguan penglihatan, sakit kepala, peningkatan tekanan darah.
Dapat mencegah keraguan terhadap pengobatan dan meningkatkan kemampuan klien untuk menjalani terapi.
Merujuk pemeriksaan mata saat memulai dan menjalani therpi etambutol.
Efek samping utama etambutol adalah menurunkan  ketajaman penglihatan dan juga mengurangi kemampuan untuk mempersepsikan warna hijau.
Memberikan dorongan pada klien dan keluarga untuk mengungkapkan  kecemasan/keprihatinannya serta memberikan jawaban yang jujur atas pertayaannya. Jangan berusaha menyangkal pernyataanya.
Memberikan kesempatan untuk mengubah pandangannya yang salah dan meredakan kecemasannya. Penyangkalan terhadap perasaannya akan memperburuk mekanisme koping yang merugikan kesehatannya.
Review tentang cara penularan TB ( misalnya : umumnya melalui inhalasi udara yang mengandung kuman, tapi mungkin juga menular melalui urine jika infeksinya mengenai sistem urinaria ) dan resiko kambuh kembali.
Pengetahuan yang cukup dapat mengurangi resiko penularan / kambuh kembali. Komplikasi yang berhubungan dengan tidak adekuatnya penyembuhan TB meliputi : formasi abses, empisema, pneumothorak, fibrosis, efusi pleura, empyema, bronkhiektasis, hemoptisis, ulcerasi GI, fistula bronkopleural, TB laring, dan penularan kuman.



Dx. IV.
Independen
Kaji dan komunikasikan status nutrisi klien dan keluarga seperti yang dianjurkan :
1.    Catat turgor kulit
2.    Timbang berat badan
3.    Integritas mukosa mulut, kemampuan dan ketidakmampuan menelan, adanya bising usus, riwayat nausea, vomiting atau diare.
Digunakan untuk mendefinisikan tingkat masalah dan intervensi
Mengkaji pola diet klien yang disukai/tidak disukai
Membantu intervensi kebutuhan yang spesifik, meningkatkan intake diet klien.
Meonitor intake dan output secara periodik.
Mengukur keefektifan nutrisi dan cairan.
Catat adanya anoreksia, nausea, vomiting, dan tetapkan jika ada hubungannya dengan medikasi. Monitor volume, frekwensi, konsistensi BAB.
Dapat menentukan jenis diet dan mengidentifikasi pemecahan masalah untuk meningkatkan intake nutrisi.
Anjurkan bedrest
Membantu menghemat energi khususnya terjadinya metabolik saat demam.
Lakukan perawatan oral sebelum dan sesudah terapi respirasi
Mengurangi rasa yang tidak enak dari sputum atau obat-obat yang digunakan untuk pengobatan yang dapat merangsang vomiting.









DAFTAR PUSTAKA






Carpenito, Lynda Juall.  2001.  Buku Saku Diagnosa Keperawatan, Edisi 8.  EGC.  Jakarta.

Doengoes, ME.  2000.  Rencana Asuhan Keperawatan.  EGC.  Jakarta.

IDAI dan PP IDAI UKK Pulmonologi.  2000.  Tatalaksana Mutakhir Penyakit Respiratorik Pada Anak; Dalam Temu Ahli Respirologi Anak-Anak.  Jakarta.

Nelson.  2000.  Ilmu Kesehatan Anak; Volume 2 Edisi 15.  EGC.  Jakarta.

Ngastiyah.  1997.  Perawatan Anak Sakit.  EGC.  Jakarta.

Soeparman.  1999.  Ilmu Penyakit Dalam; Jilid I.  FKUI.  Jakarta.

Staf Pengajar Ilmu Keperawatan Anak FKUI.  1985.  Buku Kuliah 2 Ilmu Kesehatan Anak.  FKUI.  Jakarta.

……..  2000.  Diktat Kuliah Medikal Bedah PSIK FK Unair Surabaya.
























ASUHAN KEPERAWATAN

 ANAK M. F USIA 5 TAHUN DENGAN LIMFADENITIS TUBERCULOSA SUSPECT MENINGOENCEPHALITIS TB

DI RUANG ANAK (B3) RSUD DR. SOETOMO SURABAYA















OLEH :

Simon Sani Kleden

NIM 019930056  B












PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS AIRLANGGA
SURABAYA
2001


FORMAT PENGKAJIAN ASKEP ANAK


Nama Mahasiswa         :  Simon Kleden              Ruangan       :  Anak (B 3)
NIM                                 :  019930056 B                            No. Register :  10053860
Pengkajian diambil tgl. :  06 Juli 2001                             Jam                 :  12.15 wib
 


I.  IDENTITAS KLIEN:
      Nama                  :  An. M.F
     Jenis Kelamin    :  Laki-laki
Tempat/Tgl. Lahir :  Krian, 28-5-1996
Umur                    :  5 tahun
Anak Ke              :  2
Nama Ayah         :  Tn. S
Nama Ibu                        :  Ny. A
Pendidikan Ayah:  SLTA
Pendidikan Ibu  :  SLTA
Agama                 :  Islam.
Suku/Bangsa     :  Jawa/Indonesia
Alamat                 :  Jl. Sidoarjo 4/5 Krian, Sidoarjo
Tanggal MRS     :  09 Juni 2001 jam 19.15 wib
Diagnosa Medis :  Limfadenitis TB + S. Meningoencephalitis TB.
Sumber Informasi:  Orangtua, rekam medik, pengkajian
II.  Riwayat Keperawatan
1.  Riwayat Keperawatan Sekarang:
1.1     Keluhan Utama: panas, kejang, mata tidak mau menutup dan keme-rahan.
1.2    Lama Keluhan:  sejak 1 bulan yang lalu.
1.3   Akibat timbulnya keluhan: 
  Kesadaran klien menurun, mata terbuka dan kemerahan, kejang, tangan dan kaki drop/kaku.
1.4   Faktor yang memperberat:  panas yang tinggi/demam.
1.5   Upaya untuk mengatasi:
 Memberikan kompres hangat dan memberikan puyer pamol untuk menurunkan panas.
1.6   Lainnya:  klien mendapat perawatan dari bagian mata dan fisioterapi serta telah dikonsulkan dengan bagian gizi.

2.    Riwayat Keperawtan Sebelumnya (Post History)
2.1   a.  Pre natal  : 
ibu tidak pernah sakit, kontrol rutin puskesmas dan dapat vitamin.  Kebiasaan minum jamu sinom sampai dengan kehamilan 8 bulan.
b.    Natal:
Kehamilan 9 bulan aterm, BBLR 3 kg.  Lahir spontan, langsung menangis.  Obat-obatan yang diberikan tidak ada, hanya suplemen vitamin dari puskesmas/bidan.
c.    Post natal:
Asi diberikan sampai dengan usia 1,5 tahun.  Diasuh oleh ibu kandung dibantu oleh anggota keluarga yang lain (ayah, kakek dan nenek).  Klien pernah menderita sakit panas ketika berumur 1,5 tahun tapi tidak sampai MRS.
2.2   Luka/Operasi:  tidak ada.
2.3   Alergi: tidak ada.
2.4   Pola kebiasaan:
2.5   Tumbang:
Mengangkat kepala, merangkak umur 10 bulan, bicara umur 1 tahun.
2.6   Imunisasi Lengkap:
-          BCG
-          DPT I, II, III, booster?
-          Polio I, II, III, IV, booster?
-          Campak
-          Hepatitis B
2.7   Status Gizi
-          ASI diberikan sampai umur 1,5 tahun.
-          Pisang diberikan mulai umur 2 bulan.
-          Bubur diberikan mulai umur 7 bulan.
-          BB= 17 kg, sebelum sakit.  Saat pengkajian BB= 12,5 kg.
2.8   Psikososial
Masa bayi (0-1 tahun): dirawat oleh ibu dibantu ayah dan kakak kadang juga oleh kakek dan nenek, tetapi dengan ibunya,  klien sulit dipisahkan.  Klien menangis keras bila ibu lama meninggalkannya.
Toddler (1-3 tahun):  Klien berpakaian, makan serta BAB masih dibantu oleh ibu, kadangkadang oleh ayah dan kakak namun lebih sering dengan ibunya.  Klien mulai belajar bicara sejak umur 1 tahun.
Anak Pre School (4-6 tahun):  klien juara menyanyi, prestasi belajarnya lumayan baik.  Klien dekat dengan ibunya.  Klien pendiam dan agak cengeng.  Kesekolah diantar jemput.
2.9   Psikosexual:  klien berada diantara fase oedipal/falik dan fase laten.
2.10      Interaksi:  menurut ibunya klien pendiam dan cengeng.  Klien sangat dekat dengan ibunya dibandingkan dengan ayahnya.

3.    Riwayat Kesehatan Keluarga
3.1   Komposisi keluarga:  4 orang (ayah, ibu, kakak dan klien).
3.2   Lingkungan rumah dan komunitas: 
3.3   Pendidikan dan pekerjaan anggota keluarga:  SLTA dengan pekerjaan swasta.
3.4   Kultur dan kepercayaan:  adat Jawa, kepercayaan yang dianut adalah agama Islam.
3.5   Fungsi dan hubungan keluarga: klien dirawat oleh ibu, menurut ibunya klien dekat dengan dirinya dibandingkan dengan ayah dan kakaknya.
3.6   Perilaku yang dapat mempengaruhi keseahatan: tidak terkaji.
3.7   Persepsi keluarga tentang penyakit klien:  keluarga berharap keadaan klien cepat membaik/sembuh.  Keluarga menganggap penyakit yang menimpa anaknya sebagai suatu cobaan yang harus dijalani.

4.    Pola Fungsional Kesehatan
4.1   Pola persepsi dan mempertahankan kesehatan:
Klien adalah anak ke-2 dari 2 bersaudara.  Ibu klien mengatakan ia sudah biasa merawat anaknya yang dulu pernah sakit dileher (servikal) terdapat benjolan sebesar kelengkeng yang dulu besar dan sekarang sudah mengecil.
4.2   Pola latihan dan aktifitas:
Kaki dan tangan mengalami kekakuan, spasme pada ekstremitas atas dan bawah, mata menonjol keluar dan tidak bisa ditutup serta meradang.  Punggung melengkung ke arah depan (lordosis).  Tidak ada batuk, riak banyak, ada ronkhi, RR= 36 x/mnt, nadi 128 x/mnt, reguler.  Akral teraba hangat, refleks babinski +, refleks cedhok +.
4.3   Pola nutrisi:
Ibu klien bertanya mengapa kondisi fisik anaknya masih kurus, padahal ia terus memberikan diit sesuai dengan yang diberikan oleh RS.  Makan lewat sonde, diit TKTP 1250 kalori yang terdiri dari modisco III 1x 100 cc, tim sonde 6x100 cc.  Saat pengkajian BB 12,5 kg, TB 105 cm, LK 50 cm, LD 55,5 cm, LLA 10,5 cm, kulit kering, mukosa kering.  Badan panas dengan suhu 38,8oC.
4.4   Pola eliminasi:
Dikatakan klien lama tidak BAB, saat pengkajian klien BAB.  Oleh perawat yang jaga malam klien di lavament, BAK jarang, 2-3x/hari.
4.5   Pola tidur dan istirahat:
Tidak bisa dikaji karena kesadaran klien somnolen.
4.6   Pola kognitif dan perseptual:
Klien kadang kejang, reaksi terhadap nyeri +.
4.7   Pola persepsi diri:
Tidak bisa dikaji.   Ibu klien tampak sabar dan telaten dalam merawat/ menjaga klien.
4.8   Pola peran – hubungan:
Yang merawat klien selama sakit adalah ibunya, yang secara telaten dan disiplin serta sabar.  Bila mau pergi untuk membeli obat atau mandi ibunya selalu menitipkan kepada perawat atau tetangga dan keluarga yang sedang membesuknya.
4.9   Pola seksualitas/reproduktif:
Sejak masih kecil klien sudah dekat dengan ibunya dibandingkan dengan ayah maupun kakaknya.  Organ seksual lengkap dan dalam batas normal.
4.10      Pola mekanisme koping dan stress:
Sebelumnya klien pendiam dan agak cengeng.  Saat pengkajian kesadaran klien somnolen sehingga tidak bisa mengkaji.
4.11      Pola nilai dan keyakinan
Keluarga memeluk agama Islam.  Ibu memasrahkan anaknya kepada Tuhan YME dengan selalu berdoa dan mengerjakan shalat.  Ibu klien yakin bahwa anaknya suatu saat nanti dapat sembuh.

5.    Pemeriksaan Diagnostik
  Patologi anatomi (PA) tanggal 25 Juni 2001:
    Kesimpulan:  nodul colli sinistra.  FNA Lymphadenitis tuberculosa.
  Pemeriksaan laboratorium tanggal 21 Juni 2001:
    CRP positif 48 mg/L.
  Pemeriksaan laboratorium tangal 13 Juni 2001:
    Hb               =  9,4 g/dl
    Eritrosit       =  4,8 x 1 juta/UL
    Leukosit     =  13,7 x 109/L
  Pemeriksaan lumbal punksi tanggal 09 Juni 2001:
    Liquor lengkap:
-          Warna       :  jernih
-          Kekeruhan :  -
Makroskopis:
-          Jumlah sel:  3 /cm.
-          Jenis sel:
Mononuklear :  100%
Poli nuklear  :  -
               Uji kimiawi:
-          Nonne Apelt :  -
-          Pandy           :  -
-          Kadar gula   :  35 mg/dl
-          Protein        :  34 mg/dl

Terapi:
  Cotrimoxazole  2x400 mg
  Prednison 3x1 tab
  Streptomycin injeksi 1x400 mg/IM
  INH 1x200 mg
  Rifampisin 1x10 mg
  B6 1x150 mg
  Pamol puyer k/p
  Lavament 2x sehari
  Diit TKTP 1250 kal
  Modisco III 1x100 cc
  Tim sonde 6x100 cc



















ANALISA DATA

Tgl.
Data
Penyebab
Masalah
09/7/
2001
S: Ibu klien mengatakan suhu tubuh anaknya meningkat/ panas.
O:- Peningkatan suhu tubuh 38,8oC.
-          Leukosit 13,7x109/L
-          PA: Lymfadenitis TB.
-    Gizi buruk.   
Peradangan pada paru & jaringan otak
¯
Daya tahan tubuh menurun & malnutri-si
¯
Kuman ikut aliran darah & limfa, me-nyebar ke seluruh tubuh
¯
Komplikasi infeksi pada organ lain
Resiko infeksi & penyebaran infeksi
09/7/
2001
S: Ibu klien bertanya mengapa kondisi anaknya tetap kurus & tidak sadar.
O: - NGT terpasang.
-   Kesadaran somnolen.
-   BB= 12,5 kg.
-   Kulit kering.  

Kesadaran klien me-nurun (somnolen) sebagai akibat infek-si
¯
Intake kurang, pro-ses absorbsi maka-nan lambat
¯
Peningkatan kebutu-han kalori & kesuli-tan dalam mencerna kalori
Perubahan nutrisi: kurang dari kebutuhan
09/7/
2001
S: Ibu mengeluh kaki & tangan klien kaku.
O: -Kaki & tangan drop/kaku.
-   Tulang belakang melengkung ke muka.
-   Spastik.
-   Penurunan kesadaran: somnolen.
-   RR= 36x/mnt.
    -  Nadi= 128x/mnt. 
Gangguan motorik & kelumpuhan bebera-pa nervus cranialis
¯
Kelumpuhan & ke-jang serta kekakuan & kontraktur

Gangguan mobilitas fisik
09/7/
2001
S: Ibu bertanya tentang kondisi anaknya, pengobatan serta prognosisnya.
O: Ibu selalu bertanya.
Keadaan klien
¯
Keluarga (ibu & ayah)
¯
Interpretasi yang salah, tidak akurat, informasi yang dida-pat tidak lengkap
Kurang pengetahuan keluarga tentang kondisi klien, pengobatan, pro-sedur diagnostik & prognosis

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar